Kebudayaan
sebagai tanda eksistensi manusia tidak selamanya selaras dengan nilai kemanusiaan.
Hingga saat ini kebudayaan sebagai bentuk pencapaian akal budi justru mengancam
kelangsungan hidup makhluk di bumi.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Minggu, Januari 21, 2018
Senin, November 23, 2015
Arsip Sebagai Kekuatan Membangun Peradaban (Versi Lengkap)
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikerjakan untuk hari esok”
(Q.S Al-Hasyr: 18)
Seorang astronom kenamaan asal Amerika Serikat Carl Sagan (1934-1996) pernah melontarkan penyesalannya; “Seandainya perpustakaan Alexandria tidak dibakar dan tradisi keilmuannya terus berlanjut, maka barangkali sosok Albert Einstein sudah muncul lima abad yang lalu. Atau mungkin malah seorang Einstein tidak akan pernah ada, sebab perkembangan ilmu pengetahuan yang integral dan menyeluruh sudah terjadi, dan mungkin pada akhir abad keduapuluh Masehi ini, sedikit saja umat manusia yang masih tinggal di bumi, karena sebagian besar telah menjelajah dan mengkoloni bintang-bintang, dan telah beranak-pinak sampai mencapai miliaran jiwa!. Kalau pada tahap sekarang ini kita baru memasuki era globalisasi dengan adanya kemudahan transpotasi berkat pesawat-pesawat jumbo, maka jika seandainya pusat ilmu di Mesir itu tidak dibakar kaum fanatik, dan warisan ilmiahnya berkembang terus tanpa terputus, kita sekarang sudah memasuki era antar bintang (interstellar era), dengan kapal-kapal ruang angkasa yang berseliweran di atas orbit bumi, dan dengan nama-nama kapal yang tidak dalam bahasa Inggris seperti kebanyakan sekarang, tapi dalam bahasa Yunani!”.
(Q.S Al-Hasyr: 18)
Seorang astronom kenamaan asal Amerika Serikat Carl Sagan (1934-1996) pernah melontarkan penyesalannya; “Seandainya perpustakaan Alexandria tidak dibakar dan tradisi keilmuannya terus berlanjut, maka barangkali sosok Albert Einstein sudah muncul lima abad yang lalu. Atau mungkin malah seorang Einstein tidak akan pernah ada, sebab perkembangan ilmu pengetahuan yang integral dan menyeluruh sudah terjadi, dan mungkin pada akhir abad keduapuluh Masehi ini, sedikit saja umat manusia yang masih tinggal di bumi, karena sebagian besar telah menjelajah dan mengkoloni bintang-bintang, dan telah beranak-pinak sampai mencapai miliaran jiwa!. Kalau pada tahap sekarang ini kita baru memasuki era globalisasi dengan adanya kemudahan transpotasi berkat pesawat-pesawat jumbo, maka jika seandainya pusat ilmu di Mesir itu tidak dibakar kaum fanatik, dan warisan ilmiahnya berkembang terus tanpa terputus, kita sekarang sudah memasuki era antar bintang (interstellar era), dengan kapal-kapal ruang angkasa yang berseliweran di atas orbit bumi, dan dengan nama-nama kapal yang tidak dalam bahasa Inggris seperti kebanyakan sekarang, tapi dalam bahasa Yunani!”.
Sabtu, Juli 25, 2015
Minggu, Juli 12, 2015
Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Edisi 2 #Mengeksplore Kegalauan
Siapa yang tidak bahagia ketika
berada bersama orang yang dicintai.
Panas, hujan, dingin, bukanlah menjadi persoalan selama selalu bersamanya. Hati
selalu berbunga-bunga, penuh energi, gairah, dan harap-harap cemas. Satu hari
bahkan satu menit saja tidak berjumpa seperti kehilangan serpihan hati yang
hilang. Serasa ada yang menekan diulu hati, hidup jadi tidak seimbang, melemahkan
urat-urat syaraf hingga kurang bersemangat ketika bicara, kurang optimal dalam
berkarya, hiruk-pikuk menjadi tidak menarik lagi, menyeret kepada sendirian
seraya mencari-cari dimanakah sang pujaan hati? Itu saja.
Sabtu, Juli 11, 2015
Pengalaman keren tentang Pengobatan Tradisional (Sayangnya gak bisa motret, hp lagi diopname)
Saya kemarin nganter saudara saya yang sakit gigi. Dan dapet rekomendasi dari tetangga klo ngobatin sakit gigi itu ke bu (Sebut saja Bunga). Saya dan saudara saya langsung meluncur ke rumah Bu Bunga. Agak lama nyari-nyari alamat akhirnya ketemu juga. Rumahnya di pojok Kampung.
Senin, Maret 16, 2015
Diam
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diam diartikan; tidak bersuara (tidak
berbicara), tidak bergerak (tetap di tempat), tidak berbuat (berusaha) apa-apa.
Kondisi ini tentunya jika merujuk dari pengertian KBBI berlaku untuk benda
hidup maupun benda tak hidup. Adakah benda yang benar-benar diam di dunia ini?.
Dalam ilmu kimia kita pernah belajar bahwa benda-benda berdasarkan massa
jenisnya ada benda padat, benda cair, dan gas. Bahkan masing-masing jenis itu
dalam kondisi tertentu mampu berubah dari jenis satu ke jenis yang lain. Perpindahan
itu menandakan bahwa benda-benda itu selalu bergerak/berubah.
Minggu, September 28, 2014
Belajar Memahami Negara dari Kontrakan (Sebuah Catatan Semasa Kuliah di Undip)
Semasa kuliah di Universitas Diponegoro (Undip)
Semarang, saya tinggal di rumah warga sekitar yang jaraknya tidak terlalu jauh
dari kampus. Saat pertama kali menginjakan kaki di Kota Semarang, saya tinggal
di Jl. Banjarsari Gang Maerasari no 27 A. Saya tinggal di rumah minimalis 2
lantai dengan dinding-dinding pagar bata merah yang belum rampung.
Rumah tersebut memang di kontrakan kepada kami para mahasiswa perantauan. Pada masa itu (tahun 2008) kami harus membayar kurang lebih 800 ribu/orang/tahun. Saat itu di kontrakan kami berjumlah 8 orang. Berarti kami harus membayar 16 juta pertahun. Itulah pengalaman saya tinggal di rumah kontrakan saat di perantauan.
Rumah tersebut memang di kontrakan kepada kami para mahasiswa perantauan. Pada masa itu (tahun 2008) kami harus membayar kurang lebih 800 ribu/orang/tahun. Saat itu di kontrakan kami berjumlah 8 orang. Berarti kami harus membayar 16 juta pertahun. Itulah pengalaman saya tinggal di rumah kontrakan saat di perantauan.
Minggu, September 07, 2014
Pakaian
Pola pikir manusia memang
tidak bisa di batasi oleh ruang dan waktu. Bisa saja orang yang hidup di masa
lalu waktu itu memiliki kemampuan berpikir mendahului zamannya. Begitupun
sebaliknya, bisa jadi manusia yang hidup di abad 21 ini pola pikirnya
tertinggal jauh oleh semangat zaman yang terus berubah.
Paleolitikum
Mengajar
sejarah di SMA ternyata bikin dilematis apa lagi saat membahas materi-materi
tertentu yang hingga saat ini masih penuh kontroversi. Salah satunya adalah
pembahasan mengenai zaman batu. Umumnya di dalam buku sejarah, pembagian zaman
batu di bagi menjadi Zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan
Megalitikum. Zaman Paleolitikum dikenal sebagai zaman batu tua, Mesolitikum
dikenal sebagai zaman batu pertengahan, Neolitikum dikenal sebagai zaman batu
muda, adapun Megalitikum dikenal sebagai zaman dimana masyarakat purba
menggunakan batu-batu dengan ukuran besar.
Sabtu, Agustus 30, 2014
TELAH TERBIT!

Judul : Mikir Undercover
Penulis : Anton Saputra Kelana
Harga : Rp. 29.700,00
Tebal : 114 halaman
ISBN : 978-602-225-906-0
SINOPSIS:
Membaca buku ini seakan-akan mengajak pembaca untuk berwisata menelusuri berbagai diemensi ruang dan waktu dengan kompleksitas kehidupannya. Berisi kumpulan pandangan, kesan, dan refleksi penulis dalam memahami peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekitar sebenarnya telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Bahwa setiap orang punya sikap tersendiri dalam memaknai peristiwa yang terjadi. Bisa jadi sebagian dari kita begitu mudah melewatkan peristiwa yang terjadi tanpa berusaha memaknai lebih mendalam. Namun ada juga sebagian orang yang sensitif melihat setiap peristiwa hingga mampu mengambil hikmah. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda dalam memaknai setiap peristiwa yang menimpanya. Selain itu, nasehat-nasehat berharga kehidupan ternyata tidak melulu bergantung dari para penceramah atau motivator. Akan tetapi dengan bekal akal pikiran dan hati, seseorang pun bisa mengambil mutiara-mutiara kehidupan yang berserakan dimana saja. Dengan demikian buku ini mengajak pembaca agar merenung dan memperhatikan sejenak setiap peristiwa yang dialaminya. Terkadang rutinitas keseharian mennyita waktu-waktu berharga seseorang untuk memaknai kehidupannya sehingga detik demi detik dilewati tanpa arti. Meski bukan bermaksud menulis buku sejarah, penulis memandang bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari kehidupan masa lampau. Sehingga dalam beberapa catatannya, penulis berusaha melihat bahwa persoalan yang sedang terjadi begitu erat kaitannya dengan masa lampau.
Pemesanan buku ini dapat dilakukan melalui :
Sms ke 0819 0422 1928
Inbox FB/FP LeutikaPrio
Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau pemesanan online ke http://www.leutikaprio.com/produk/111132/kumpulan_artikel/14081062/mikir_undercover/14086237/anton_saputra_kelana
Selasa, Agustus 05, 2014
Menafsir Cerita Si Doel Anak Betawi
Ada hal-hal yang tidak bisa di peroleh hanya dengan
bekal pengetahuan. Mungkin telah banyak buku, cerita, yang pernah kita
baca/dengarkan tentang suatu hal. Mungkin kita menduga-duga pada usia sekian
“saya akan mengalami ini dan itu, saya akan
menghadapi tantangan ini dan itu, saya akan berhadapan dengan masalah
ini dan itu”. Namun itu semua barulah prediksi yang masih samar alias bukan
sebenarnya. Baru sebatas berupaya empati dengan kondisi-kondisi yang kita
bayangkan kelak. Pengetahuan-pengetahuan tersebut bukanlah keadaan yang
seutuhnya, akan tetapi hanya serpihan-serpihan yang tersisa dari pengalaman
seseorang. Meskipun demikian, tentu hal tersebut cukup berguna bagi setiap
orang agar kelak di masa depan seseorang tidak mengalami ke-kagetan (Shock)
yang bisa menjurus kepada hal-hal yang tidak baik. Artinya dengan memperbanyak
pengetahuan di masa depan tentang segala hal, seseorang telah berupaya
melakukan antisipasi agar mampu mengambil keputusan yang terbaik, tepat, untuk masa
depan.
Sabtu, Agustus 02, 2014
Pilpres 2014!
Bagi saya Pilpres tahun 2014 ini cukup seru dan
panas. Masing-masing calon punya
pendukung yang fanatik. Peran sosial
media, dan pers cukup massif. Tiap detik masing-masing pendukung saling serang–menyerang,
counter mengkounter. Perang opini terasa betul mewarnai pilpres kali
ini. Di tambah peran lembaga survei ‘bayaran’ dengan wajah ilmiah merilis
perolehan suara masing-masing calon semakin membingungkan masyarakat. Ada yang
melaporkan bahwa pasangan No. 1 unggul dan ada pula yang melaporkan pasangan
No. 2 yang unggul. Saya sempat heran, ternyata bukan hanya kata-kata yang
bersayap, namun angka-angka, rumus, statistik pun bisa bersayap dan
dimanipulasi. Jelas pasti ada lembaga survei yang tidak jujur!. Selain itu peran
masyarakat sipil di sosial media cukup besar. Kemajuan teknologi informasi
menjadikan masyarakat aktif menyebarkan berita. Berita tidak hanya dimonopoli
oleh lembaga-lembaga pers tapi juga oleh masarakat luas.
Kamis, Juli 31, 2014
Senin, Juli 21, 2014
Mahasiswa dan Materialisme
Mungkin
sebagian besar orang tua pesimis jika anaknya, keponakannya, kerabatnya,
memilih masuk jurusan Ilmu-ilmu sosial yang kurang populer. Jurusan-jurusan yang kurang populer itu
antara lain Ilmu Sejarah, Sastra Indonesia, Sosiologi, Antropologi, Filsafat,
Arkeologi, bahasa Sunda, D III Kerasipan, Seni Rupa, Seni Tari, Bahasa Jawa, dll. Umumnya sikap pesimis tersebut didasari oleh
pertanyaan “Nanti mau jadi apa?”, “Kerja dimana?”, dan “Kira-kira dapat gaji
berapa?”.
Selasa, Juli 15, 2014
Cinta, Keyakinan, Perjuangan
Saya
merasakan betapa tidak enaknya jatuh cinta saat masih duduk di bangku SMA.
Awalnya saya tidak terpikir bisa jatuh cinta. Boro-boro mikir jatuh cinta. Saat itu saya sangat minder dengan keadaan.
Keadaan keuangan keluarga yang fluktuatif menguras batin saya. Meskipun masalah
keuangan adalah masalah orang tua, tapi sebagai anak yang menginjak usia remaja
dan setiap hari melihat keseharian kehidupan keluarga, saya tidak seratus
persen tenang belajar.
Jumat, Juli 04, 2014
Saat Hedonisme, Pragmatisme, Meracuni Dunia Pendidikan
Saya
tidak habis pikir dengan munculnya sekolah-sekolah swasta yang menyediakan
“jasa” kuliah super singkat untuk mengejar gelar. Kok bisa-bisanya pemerintah
memberikan izin kepada lembaga-lembaga tersebut?. Bukankah tujuan utama
didirikannya lembaga pendidikan adalah untuk melahirkan manusia yang
berkebudayaan?. Dari niatnya saja sudah tercium pekat aroma pragmatisme. Bukan
ilmu pengetahuan yang di kembangkan dalam lembaga itu akan tetapi “dagang sapi”
belaka. Bagaimana mungkin kepalsuan ini dipelihara secara nyata di negeri ini?
Rabu, Juni 25, 2014
Imajinasi Kematian 2
Kematian merupakan
kepastian. Kematian berlaku bagi semua makhluk Allah. Yang tua maupun muda,
yang kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat jelata, yang pandai maupun yang
belum pandai, yang berkulit hitam ataupun yang putih. Semuanya yang bernyawa
pasti akan mati. Yang saat ini sedang gagah-gagahnya lambat laun akan rapuh,
menua lalu mati. Yang saat ini sedang berbangga-bangga dengan hartanya,
kecantikannya, kekuasaanya pun lambat laun akan hilang dimakan usia. Mau tidak
mau, suka tidak suka, rela tidak rela, jika sudah waktunya, tidak ada yang
mampu menunda, tidak ada yang mampu bernegosiasi dengan ajal.
Sabtu, Juni 21, 2014
Masihkah Ada Harmoni diantara kita?
Syukur alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan menemui banyak manusiadi dunia ini. Mereka
memiliki karakter berbeda-beda dan banyak memberikan pelajaran berharga dalam
mengarungi kehidupan. Mulai dari yang paling “kanan” sampai dengan yang “kiri
mentok” (yang seperti apa ya yang kiri mentok????), mulai dari yang keras hingga yang paling lembut, mulai dari yang
radikal hingga yang liberal.
Lentera Hidup 2
Saya
belajar banyak hal setelah 5 bulan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Ihsanul
Fikri Mungkid Magelang terutama hal-hal yang berkaitan dengan keasramaan. Satu
hal yang saya catat adalah bahwa membentuk karakter murid tidaklah mudah. Banyak faktor penunjang yang terlibat di
dalamnya. Faktor penunjang itu tidak bisa dominan pada aspek tertentu saja tapi
harmonisasi dari beberapa aspek seperti pengasuh (guru), sarana-prasarana,
sistem, dan leadership (kepemimpinan).
Langganan:
Postingan (Atom)






.jpg)
.jpg)






