Saya
dilahirkan dalam keluarga yang minim pengetahuan tentang Islam. Meskipun ayah
dan ibu saya seorang muslim tapi dilihat dari aspek ibadah, dalam kesehariannya
belum terlihat sebagai penganut agama yang taat. Salah satu ukurannya adalah
ibadah shalat lima waktu. Memang saya pernah lihat ayah dan ibu melakukan
shalat, tetapi belum terlihat menjadi amalan yang konsisten. Hari ini shalat tetapi pada hari yang lain
tidak shalat. Saya jarang lihat ibu dan ayah membaca al-quran. Sepertinya
memang keduanya belum pandai membaca Al-quran. Sesekali saya pernah mendengar
ayah membaca beberapa ayat al-quran, tapi sebatas hafalan saja.
Saya
ingat waktu itu ketika saya berumur 6 tahun
ayah dan ibu memerintahkan saya ikut pengajian di langgar kampung tidak
jauh dari pelataran rumah. Waktu itu saya tidak mengerti apa itu mengaji.
Berhubung kakak dan teman-temannya banyak yang berangkat mengaji, sayapun
ikut-ikutan sebatas berkumpul dan bersosialisasi saja. Saya kan memang anak
kecil waktu itu.
Saya
tergolong anak yang susah diatur dan bandel. Dalam hal mengaji saya sukar
diarahkan. Saya lebih senang bermain daripada mengaji. Bisa dibilang saya asing
jika berada di Langgar. Saya ingat waktu itu saya belajar membaca Al-quran
dengan turutan atau lebih populer
disebut juz amma. Saya diajarkan dengan metode mengeja huruf perhuruf dan
hafalan. Sulit sekali bagi saya mengenal huruf demi huruf waktu itu. Lebih enak
bermain dari pada mengaji.
Saya
ingat teman-teman seumuran saya waktu itu Akbun dan Arif begitu giat mengaji di
desa Cihoe. Desa itu berada 50 meter dari rumah saya. Ya, rumah saya memang
berada di perbatasan antara desa Cogreg dan Cihoe. Entah mengapa waktu itu saya
tidak tertarik mengaji. Meskipun saudara-saudara saya sering kali membanding-bandingkan
sikap saya dengan mereka, tapi saya benar-benar malas mengaji. Alhasil sekitar
usia 8 tahun saya belum mengenal huruf hijayyah. “Eh si Akbun udah baca 2 Juz
lhoo”. Kakak saya mencoba membandingkan. Tetapi saya tetap tidak perduli.
Pengajian Ala Bang Tiar
Pengajian
di Langgar masih tetap berjalan, tapi saya tidak begitu aktif mengaji disana.
Pengajian di desa Cihoe masih tetap berjalan bahkan sangat maju. Barulah saya
agak tertarik mengaji ketika ada seorang santri namanya Bang Tiar klo tidak
salah ingin membuka pengajian di depan rumah saya. Bang Tiar ini adalah
sahabatnya Mpok Omi. Jadi pengajian dilakukan di rumahnya Mpok Omi setiap hari ba’da
ashar, sedangkan libur diadakan setiap malam Jumat. Klo tidak salah Bang Tiar
dan Mpok Omi sama-sama masih singgle waktu itu. Selebihnya saya tidak mengerti
hubungan mereka berdua.
Letak
pengajian yang begitu dekat dengan rumah membuat saya lumayan sering mengaji.
Disana saya mulai dikenalkan huruf hijayah. Diajari membaca huruf sambung
dengan metode di eja huruf per huruf. Saya terus bertahan megikuti pengajian
dengan metode seperti itu. Saya ingat waktu itu konsentrasi ngaji saya sesekali
buyar karena menanti-nanti film laga “Misteri Gunung Merapi” yang tayang setiap minggu pukul 19.00 WIB di
Indosiar.
Dari
pengajian itulah saya mulai diajari gerakan shalat, tetapi hanya sekilas saja. Pengajian
itu hanya bertahan beberapa bulan saja karena Bang Tiar sudah tidak ngajar
lagi. Saya tidak tahu sebabnya. Hati saya sempat merasa haru waktu itu. Baru
saja saya suka ngaji, tapi pengajiannya malah ditutup.
Bang Amid
Beberapa
bulan saya tidak mengaji lagi. Ada seorang guru perempuan memulai pengajian
lagi tapi hanya berlangsung beberapa saat dan tidak cukup membekas. Cara
mengajarnya benar-benar biasa sekali. Anak-anak diminta kumpul, lalu baca turutan masing-masing, setelah selesai
mengaji, kami langsung beranjak pulang. Hingga muncullah seorang guru ngaji
baru kembali namanya Bang Hamid, biasa dipanggil Bang Amid. Dia adalah salah
satu guru ngaji yang mengenalkan sedikit “kedisiplinan”, mengenalkan saya tata
cara menulis huruf Arab, fiqih, motivasi lewat cerita-cerita teladan, dan penghargaan
terhadap pertemuan dalam pengajian. Saat itu sudah mulai diterapkan “bayaran”
perbulan kepada setiap murid. Bayaran yang ditarik tidaklah seberapa bahkan
bisa dibilang sangat-sangat murah. Saya ingat betul satu bulan setiap siswa
hanya dibiayai Rp.1000. Ketika hendak memberikan perihal penarikan ini, beliau
pernah bilang untuk keperluan operasional seperti membeli kapur tulis, lampu,
sapu dan keperluan mushola lainnya.
Apresiasi
warga di desa saya bisa dibilang kurang apresiatif. Meski para murid ditarik
“bayaran” dengan tarif yang sangat murah, tapi para orang banyak yang tidak menghiraukannya, seakan-akan tabu
jika seorang guru ngaji memberikan ilmunya dengan meminta bayaran. Padahal jika
seandainya Bang Amid mengundurkan diri, para orang tua tidak bisa berbuat
apa-apa. Dari sinilah saya mulai menyadari bahwa amat sedikit orang-orang di
desa yang mau mengajar ngaji.
Bang
Amid perawakannya kurus kepalanya selalu bermahkotakan peci ala Soekarno yang
sedikit di miringkan ke samping. Jika berdiri tubunya tidak tegak alias
membungkuk 45 derajat. Beliau memang sudah membungkuk sejak remaja. Kata
bapakku, Bang Amid ketika remaja mengalami kecelakaan. Klo saya tidak salah
dengar ia mengalami kecelakaan ketika sedang main bulu tangkis.
Beliau
adalah orang yang pembawaannya santai tapi klo sudah ngajar bisa berubah
menjadi sosok yang tegas bahkan keras. Kekerasan sepertinya masih menjadi
senjata andalannya untuk mengarahkan perilaku nakal murid-murinya. Beliau
memang dikaruniai suara yang amat merdu. Ibu saya kerap memujinya ketika beliau
melantunkan barzanji saat pagi dan petang.
Memang
murid-murid waktu itu susah diatur (termasuk saya di dalamnya). Saking sukarnya
kami diarahkan, beliau mengancam akan memberikan pengajaran sambil membawa
“kalam”. Ya, kalam sebuah alat terbuat dari sebilah bambu yang dihaluskan. Sekurang-kuranngnya
kalam memiliki 3 fungsi utama. Pertama, berfungsi sebagai penunjuk huruf-huruf
Alquran. Seorang murid ketika membaca satu huruf harus disertai kemampuan
menunjukkan huruf-huruf yang dibacanya. Tidak boleh suara mendahului laju
telunjuk. Jika suara mendahului, atau terlambat, pasti dianggap salah karena
antara bacan dan terlunjuk tidak singkron. Nah inilah yang dijadikan metode
oleh Bang Amid untuk mengukur kepamahan murinya. Unik sekali memang. Kedua,
kalam berfungsi sebagai penunjuk huruf-huruf Arab di papan tulis, dan yang
terakhir berfungsi sebagai cemeti bagi murid-murid yang nakal. Nah fungsi terakhir
inilah yang menjadi momok menakutkan bagi saya dan teman-teman. Pernah suatu
ketika ruangan kondisi langgar bagaikan laron, saya dan teman-teman berlarian
di dalam ruangan. Padahal Bang Amid masih berada di dalam sedang membimbing
salah seorang murid membaca Al-Quran. Bang Amid sepertinya sudah habis
kesabarannya. Dueeeeeeeeeeeeeeeeeeeer!!! Kalam yang halus itu beradu dengan
lantai. Ibarat anak ayam yang mendengar suara petir, kami semua melongo. Saya
syok. Persis sabetan kalam itu di sisi saya. Saya membayangkan jika kalam yang
panjang itu mengenai punggung saya, akan seperti apa kulit saya. Sejenak
ruangan sepi. Hanya terdengar suara murid yang terbata-bata membaca al-quran dalam
keadaan gugup. Begitu seterusnya hingga kami menjadi terbiasa dididik dengan
gaya keras. Al hasil murid-murid tetap melakukan kenakalan secara berulang
alias tidak kapok.
Bang
Amid bukanlah Kiyai atau Ustad yang punya pakem dalam mengajar. Saya ingat ia hanya
berbekal modal buku tata cara shalat dan buku panduan tajwid yang kelihatan hampir
lapuk. Memang beliau agak menonjol dalam hal berbicara.
Dari
cerita-cerita nabi, sahabat, para malaikatlah saya mulai mendapatkan bimbingan.
Saya ingat betul beliau pernah menyampaikan kisah tentang bengisnya malaikat Zabaniyah
terhadap orang-orang yang suka berbuat maksiat seperti zina, judi dan mencuri
dengan gaya berapi-api. “Di Neraka nanti, malaikat Zabaniyah akan menyeret para
pelau maksiat tanpa ampun!”. Saya dan murid-murid lainnya terpukau sekaligus
takut mendengar kisah tersebut.
Hari-hari
terus berlalu. Pengajian oleh Bang Amid semakin sepi. Terkadang Bang Amid
datang, terkadang tidak. Murid-murid semakin sulit dikontrol. Awalnya saya juga
tidak paham mengapa Bang Amid seperti hilang dari permukaan. Ternyata yang
membuat saya kaget waktu itu adalah Bang Amid sibuk dengan usaha barunya. Mau
tahu usaha apa?. Beliau menjadi bandar Togel di lingkup RT saya. Sebagai anak
kecil yang hidup “baru kemarin sore” protes. Mungkin ini adalah pertama kalinya
bentuk kekecewaan kepada guru agama. Kemudian saya ungkapkan secara
terang-terangan kepada orang tua saya. “Pak kok Bang Amid jadi bandar Togel
sih, Togel kan judi, kan kata beliau klo orang yang berjudi nanti diseret sama
malaikat zabaniyah?”polos saya. Orang tua saya hanya tertawa kecil dan berusaha
menjelaskan agar saya mengerti begitulah dinamika kehidupan. Saya terus saja
tidak suka dengan perbuatan Bang Amid itu!. Dan ternyata Ayah saya waktu itu
menjadi salah satu “follower” Bang Amid. Buktinya jika ada pengumuman nomor
yang keluar, pasti ditempel didepan tiang rumah saya. Itu pertanda sikap ayah
saya mendukung dengan adanya togel. Setiap hari nomor demi togel diumumkan di
tiang rumah saya hingga saya hafal kode-kode nomor hewan dari no1 hinnga nomor
36. Sebagai anak yang suka main-main saya sering bermain di rumah bang Amid,
Entah kenapa halaman rumah Bang Amid betul-betul “strategis” buat berkumpul
bocah-bocah termasuk saya. Terkadang saya masuk ke rumah Bang Amid menonton TV.
Saya lihat di kamar sebelah banyak orang-orang berdret khusuk memandangi gambar-gambar
tokel yang aneh. Saya pernah liat gambarnya memang aneh. Ada binatang kepada sapi
tetapi diperutnya ada gambar mata, kepada ayam tapi punya kaki empat, pokoknya
aneh. Biasanya di atas gambar ada tulisan pertanyaan yang harus dicari
jawabannya. “Binatangnya suka berkelahi?”. Pertanyaan ini harus dipecahkan oleh
para “Togel Holic”. Pada Togel Holic
terkadang sikapnya aneh-aneh. Mereka terkadang meminta anak kecil yang mencari
jawabnya, termasuk kepada saya. “Ton binatang yang suka berkelahi apa?”. Saya juga
tertantang ingin menjawabnya. Tiba-tiba muncul dibenak saya 2 ekor ayam jantan
sedang berkelahi. Lalu saya katakan saja “Ayam Bang!, ayam kan suka berantem!”
saya lantang. “ Ah yang beneran luuu?” dia penasaran. “Beneran Bang besok
paling keluar tuh nomer”. Saya berusaha meyakinkan. Entah apa dia percaya atau
tidak saya tidak terlalu peduli. Keesokan harinya ditempat yang sama saya
bertemu dengannya “Wah Ton jawaban lu benerrr yang keluar 28”. Ya 28 itu kode
Togel buat nomor Ayam. “Tapi kagak gua pasang Toonn!”
Berlanjuuutt.....
nanti yaa... masih banyak yang menarik
disini....
Mungkin
ini adalah kehandak Allah, setiap ada guru yang mulai mundur selalu saja ada
pengganti yang baru. Datanglah seorang mahasiswa dari Desa Perigi Mekar namanya
Bang Indrus. Perawakannya tinggi, putih dan familiar. Aku baru tahu beberapa
bulan kemudian bahwa beliau adalah salah satu mahasiswa al-Mukhlisin di
Kecamatan Cieseeng. Mungkin waktu itu saya masih kelas 3 atau 4 SD.
Di
tangannyalah pengajian kami banyak mengalami perubahan. Kami yang
sebelum-sebelumnya bagaikan sekumpulan bebek yang hanya dibiasakan patuh,
manut, lalu diperkenalkan dengan dialog. Bang Idrus cukup aktraktif menajak
teman-teman berdialog. Dialog adalah makanan baru bagi kami. Bisa dibayangkan
sekumpulan anak yang malu-malu, pasif, dikenalkan dengan gaya pengajaran yang baru
jadinya seperti apa. Bang Idrus cukup heran juga sepertinya. Lalu beliau
memotivasi kita semua agar berani berbicara, berani menjawab setiap pertanyaan
dengan tegas tidak boleh takut. Terus-menerus dipupuk hingga kami menjadi
terbiasa dan akrab dengan Bang Idrus.
Bang
Idrus banyak melakukan perbaikan-perbaikan cara mengajar dan pembaharuan muatan
materi-materi yang disampaikan oleh guru-guru sebelumnya. Secara keilmuan
beliau lebih mumpuni dan progresif. Setahap demi setahap kami diajarkan cara
thaharah, cara berwudhu, bacaan-bacaan shalat, tulis menulis huruf Arab, huruf
Arab gundul, hingga bahasa Inggris. Bekal
pengetahuan itu sungguh saya rasakan hingga hari ini. Memang ada waktu khusus
untuk mengevaluasi pengajian yan dilakukan setiap hari. Nah disesi itulah
beliau memberikan muatan-muatan motivasi agar murid-muridnya tergerak sendiri
menuntut ilmu, banyak membaca buku dan memiliki-cita-cita yang tinggi.
Pada
masa didik beliaulah saya benar-benar termotivasi belajar. Saya mampu membaca
Al-quran meskipun masih sangat standar bacaanya. Saya termotivasi buku-buku
agama, buku panduan percakapan bahasa Inggris, cara berpidato, adzan dsb. Ya,
saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada beliau. Saya ingat
sekali beliau selalu memotivasi saya ikut perlombaan seperti lomba shalawat,
adzan dan pidato. Memang suara saya lumayan bagus waktu itu sehingga beliau
benar-benar wanti-wanti ingin melatih saya. Tapi sayangnya waktu itu saya
terlalu minder. Saya hanya berani dikandang sendiri. Saya tidak tertarik ikut
lomba-lomba. Mungkin waktu itu saya punya penyakit “demam panggung” akut. Saya
waktu itu hanya berhasil menjuarai lomba adzan juara III, Juara harapan 4
Pidato. Untuk kejuaraan yang pertama saya sedikit terkejut “kok saya juara III?”
padahal suara saya jauh lebih merdu dibandingkan teman saya yang juara 1 dan 2?”.
Saya menduga hal itu terjadi karena sikap saya waktu di atas panggung agak
salah tinggah. Salah satu penilaian dalam lomba itu ternyata melihat perilaku
para peserta.
Lanjut
nanti yaa.. sekarang sibuk..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar